Loading...
Rilis Berita

Integrasi Layanan Primer, Motor Penggerak Perubahan Layanan Kesehatan Masyarakat

24 November 2025


Purbalingga - Kasus kematian ibu akibat kehamilan menjadi satu dari masalah kesehatan yang kerap menghantui masyarakat Indonesia. Data long form Sensus Penduduk 2020 yang dirilis pada 2023 mencatat 7.157 kematian ibu akibat kehamilan, persalinan, dan masa nifas. Seiring berjalannya waktu, permasalahan ini sudah mulai bisa diatasi. Kementerian Kesehatan mencatat pada tahun 2024, sebanyak 75,29 persen atau 3.629.707 ibu hamil yang menyelesaikan 6 kali pemeriksaan selama masa kehamilan. Antenatal Care (ANC) dalam praktiknya mengalami peningkatan sebesar 0,58 persen dari tahun 2023.

Peningkatan kepatuhan jadwal kunjungan ini tidak terlepas dari transformasi pelayanan kesehatan, melalui program Integrasi Pelayanan Kesehatan Primer, atau ILP, yang telah diimplementasikan hingga ke tingkat desa, berkolaborasi dengan seluruh Dinas Kesehatan dan Puskesmas di penjuru tanah air. Sejak diluncurkan pada tahun 2023 hingga pertengahan November 2025, sudah ada 8.410 dari 10.300 Puskesmas telah berstatus ILP. Puskesmas ILP turut jadi motor penggerak dalam perubahan wajah layanan masyarakat Indonesia. Salah satu modifikasi yang dilakukan melalui program ini adalah bagaimana meningkatkan efisiensi dan efektivitas layanan kesehatan melalui klasterisasi.

Belajar Inovasi Berbasis Digital dari Garut dan Purbalingga

Kabupaten Garut dan Purbalingga, jadi salah satu percontohan betapa integrasi layanan primer memberikan manfaat besar, khususnya dalam proses digitalisasi layanan primer. Dengan dukungan pendanaan dari Gates Foundation, tak hanya para tenaga kesehatan di level Puskesmas yang terbantu, tetapi juga para kader di tingkat Puskesmas Pembantu (Pustu) maupun Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) dan juga pemerintah desa dan kabupaten terkait.

Pemerintah Kabupaten Garut yang disokong oleh Summit Institute for Development (SID) menunjukkan proses digitalisasi yang berdampak. Melalui Program Digitally Enabled District (DED) berkontribusi dalam mengoptimalkan pemanfaatan data kesehatan di tingkat Puskesmas hingga Posyandu. Peningkatan sumber daya manusia kesehatan hingga pembangunan infrastruktur server daerah memberikan dampak positif. Salah satu di antaranya, asesmen dan pelayanan kesehatan ibu, membantu tenaga kesehatan untuk mencegah risiko kesehatan buruk.

Puskesmas Pembantu (Pustu) Sindanglaya adalah salah satu lokasi implementasi program DED fase pertama. Pustu ini juga menjadi yang pertama dalam memberikan pelayanan kesehatan secara digital. Tenaga kesehatan di Pustu Sindanglaya menyatakan bahwa mereka sangat terbantu dalam memonitor ibu-ibu hamil secara real-time, terutama ibu berisiko tinggi. Data tersebut juga dijadikan sebagai bahan laporan untuk memberikan gambaran sekaligus rekomendasi kebijakan bagi pemerintah setempat.

“Kelebihan dari (aplikasi) ini, saya itu lebih enak (dalam melakukan pemantauan) untuk memberikan laporan kepada Kepala Desa atau pemerintah setempat. Saya ambil (menu yang diinginkan), lalu tinggal klik. Nah (setelah itu) kita bawa hasil kondisi kesehatan yang ada di sini, lalu dibahas tindak lanjut penyelesaiannya,” papar Perawat Pustu Sindanglaya, Ucu Maryamah (18/11).

Berpindah ke tengah Pulau Jawa, inovasi juga digencarkan oleh Pemerintah Kabupaten Purbalingga bersama dengan Oxford University Clinical Research Unit (OUCRU) Indonesia melalui implementasi proyek Scalable Public Health Empowerment, Research, and Education Sites (SPHERES). Program Public Health Data Theater (PHDT) memberikan terobosan baru, khususnya dalam memberikan data yang lengkap dan akurat kepada pemangku kepentingan di level Kabupaten/Kota.

Di sisi lain, proyek SPHERES juga mengintegrasikan dengan peningkatan kapasitas nakes. Ada salah satu inovasi program yang menarik yang diberi nama “Dojo Shinjitsu”. Dojo Shinjitsu didesain dalam bentuk kompetisi rutin di mana para tenaga kesehatan di level Puskesmas dapat saling mengomentari dan mengkritik program kerja di antara Puskesmas yang ada di Purbalingga. Inovasi ini merupakan upaya memberdayakan para nakes untuk tidak hanya menjalankan sesuai arahan tetapi mempunyai semangat untuk berfikir kritis mencari solusi pada setiap permasalahan yang ditemui di lapangan berdasarkan data yang disediakan dalam PHDT. Suatu program perubahan budaya cara kerja yang bisa menjadi praktik baik diterapkan di daerah lain.

“Program (Dojo Shinjitsu) benar-benar membantu kami dalam melakukan brainstorming dan meningkatkan kemampuan berpikir kritis terhadap program kerja yang kami rancang di level Puskesmas,”  ujar dr. Dwika, Kepala Puskesmas Bobotsari (19/11).


Meskipun masih dilaksanakan secara terbatas dalam bentuk proyek di daerah-daerah tersebut. Ini jadi bukti kuat bahwa digitalisasi layanan kesehatan masyarakat perlu disegerakan. Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas, Maria Endang Sumiwi (19/11), menuturkan bahwa pihaknya tengah berupaya dan berinovasi agar Integrasi Layanan Primer tidak hanya sekadar program administratif belaka. Beliau tak hentinya menyampaikan bagaimana tiga fokus dari ILP, yakni pendekatan siklus hidup, perluasan jejaring layanan hingga ke desa, serta penguatan wilayah setempat melalui digitalisasi, dapat terlaksana dengan baik. Harapannya, pembelajaran yang diperoleh dari kedua daerah tersebut dapat diterapkan oleh seluruh Puskesmas di Indonesia.

“(Program-program) ini akan kami jadikan percontohan dalam Rakontek (Rapat Koordinasi Teknis) yang rencananya dihadiri oleh seluruh (Pemerintah) Kabupaten/Kota di Indonesia,” tutupnya.

Bagikan

Ditulis oleh
administrator

Artikel Terkait