
Bekasi - Direktur Tata Kelola Pelayanan Kesehatan Primer, yang diwakili oleh Ketua Tim Kerja Integrasi Layanan Primer (ILP), Rima Damayanti, menyampaikan paparannya dalam sesi *sharing* praktik baik pada Rapat Koordinasi Teknis (Rakontek) 2025. Rima memaparkan pengenalan kembali sekaligus perkembangan kerja-kerja yang telah dilakukan Konsorsium Pelayanan Kesehatan Primer sejak 2024, yang melibatkan sejumlah direktorat di Kementerian Kesehatan, enam kementerian/lembaga lainnya, serta 30 mitra pembangunan. Kolaborasi tersebut, baik melalui program uji coba maupun dukungan kebijakan, dilakukan untuk mentransformasi layanan primer agar lebih optimal.
“Kementerian Kesehatan tidak dapat berjalan sendiri dalam melakukan transformasi terhadap integrasi pelayanan kesehatan primer. Dukungan dan kolaborasi bersama dengan mitra-mitra ini memberikan sejumlah dampak kepada pelaksanaan layanan kesehatan.”
Rima menjelaskan bahwa inisiatif yang dijalankan Ditjen Kesehatan Primer dan Komunitas (Kesprimkom) didukung oleh Gates Foundation dalam pengelolaan Sekretariat Konsorsium. Pada 2026, peningkatan Universal Health Coverage Service Coverage Index (UHC SCI) akan menjadi fokus utama bagi seluruh mitra konsorsium. Indeks ini dipandang strategis karena menjadi indikator kualitas pelayanan kesehatan suatu negara, mengingat semakin tinggi skor UHC SCI, semakin siap negara dalam menyediakan layanan kesehatan yang berkualitas.
“Misalnya saja, kesehatan keluarga yang berkaitan dengan skrining ibu hamil ataupun skrining terhadap penyakit menular dan tidak menular, hingga perlu adanya peningkatan kapasitas pelayanan dan akses. Indikator-indikator ini tentu sangat berkaitan erat dengan apa yang dilakukan oleh Bapak/Ibu di Puskesmas.”
Indeks tersebut menurutnya bersifat kompleks karena mencakup 4 domain penilaian penting. Sehingga, upaya peningkatan ini tentunya memerlukan kolaborasi lintas sektor dan mitra, termasuk pula peningkatan mutu SDM kesehatan, percepatan digitalisasi, serta penguatan kebijakan berbasis bukti. Rima menegaskan bahwa tujuan utamanya bukan sekadar mengejar skor, tetapi memastikan layanan primer memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Oleh karena itu, peningkatan UHC SCI selaras dengan implementasi ILP di tingkat daerah, dengan berbagai dampak konkret bagi masyarakat.
“...jelas bahwa penguatan UHC SCI tidak dapat dilakukan oleh Kementerian Kesehatan sendirian. Diperlukan kolaborasi strategis lintas mitra pembangunan, akademisi, organisasi profesi, dan pemerintah daerah. Karena itu, Konsorsium PHC kita posisikan sebagai platform untuk menyelaraskan dukungan mitra agar berkontribusi langsung pada perbaikan indikator-indikator prioritas ini”
Melalui integrasi pelayanan kesehatan primer yang dikerjakan bersama seluruh mitra konsorsium, yang harapannya, tenaga kesehatan dapat semakin cakap dalam memberikan layanan. Fasilitas kesehatan pun dapat menyediakan pelayanan unggul berbasis siklus hidup, integrasi jejaring layanan hingga ke desa, serta pemantauan wilayah setempat. Rima berharap kolaborasi lintas pihak melalui konsorsium ini dapat mendukung misi besar Pemerintah untuk menghadirkan layanan kesehatan esensial yang lebih merata dan terjangkau bagi masyarakat Indonesia.(phc)