Bekasi - Melalui Rakontek di Bekasi, pusat dan daerah menyepakati penguatan puskesmas, labkesmas, dan integrasi layanan primer sebagai agenda bersama menuju Indonesia sehat dan berdaya saing.
Rapat Koordinasi
Teknis (Rakontek) Program Kesehatan Primer dan Komunitas Tahun 2025 di Bekasi,
26-29 November. Mengusung tema “Mewujudkan Akses Pelayanan Kesehatan Primer
dan Labkesmas Berkualitas”, Rakontek ini diikuti kurang lebih 800 peserta
dari pemerintah daerah 38 provinsi.
Rakontek tahun
ini tidak hanya menjadi ajang evaluasi capaian, tetapi diposisikan sebagai
ruang untuk menyepakati komitmen ke depan: apa yang harus dilakukan bersama
agar puskesmas, labkesmas, dan layanan kesehatan komunitas benar-benar menjadi
tulang punggung sistem kesehatan di seluruh Indonesia.
Dalam sambutan
pembukaannya, Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas, Maria Endang
Sumiwi, menyampaikan apresiasi atas kerja keras puskesmas, pemerintah
daerah, dan semua pihak yang menggerakkan berbagai program prioritas, mulai
dari Cek Kesehatan Gratis (CKG) hingga integrasi layanan primer.
“Kita tahun
ini kerjanya ekstra, mulai Februari dengan CKG. Entah itu di pusat, di
provinsi, di kabupaten, di puskesmas. Jadi saya dan jajaran Direktorat Jenderal
mengucapkan terima kasih untuk kerja kerasnya,”
ujar Maria Endang.
Namun, ia
menegaskan bahwa Rakontek bukan sekadar perayaan capaian. Pertemuan ini harus
menjadi titik temu komitmen baru: menjadikan standar pelayanan yang sudah mulai
tercapai sebagai “paket wajib” yang dipegang semua daerah, bukan hanya
sebagian.
Dari Angka
Capaian Menjadi Standar Bersama
Dalam dua tahun
terakhir, penguatan layanan primer menunjukkan tren menggembirakan. Lebih dari 60
juta pemeriksaan Cek Kesehatan Gratis (CKG) telah dilakukan. Sebanyak
82,3 persen puskesmas telah melaksanakan Integrasi Layanan Primer (ILP),
sementara pemenuhan Sarana Prasarana Alat (SPA) Labkesmas melonjak dari
13 menjadi 317.
Dari sisi
indikator kesehatan, anemia pada ibu hamil turun menjadi 16,9 persen, setelah
bertahun-tahun berada di atas 20 persen. Prevalensi stunting juga menurun
menjadi 19,8 pesen. Capaian ini menunjukkan bahwa jika pusat dan daerah
melangkah bersama, perbaikan nyata bisa diwujudkan.
“Capaian ini
menunjukkan bahwa kita bisa kalau bergerak bersama. Tantangannya sekarang
adalah bagaimana standar-standar ini tidak hanya menjadi kebanggaan di beberapa
daerah, tetapi menjadi komitmen nasional yang dipegang semua puskesmas dan
labkesmas,” kata Maria Endang.
Rakontek
diarahkan untuk menyepakati bahwa ILP, pemenuhan SPA, akreditasi puskesmas dan
labkesmas, serta tata kelola keuangan yang baik (termasuk BLUD) bukan sekadar
target administratif, tetapi bagian dari standardisasi mutu layanan yang harus
diwujudkan di seluruh wilayah.
Jendela 20
Tahun dan Peran Layanan Primer
Maria Endang
mengingatkan bahwa penguatan layanan primer terkait langsung dengan visi
Indonesia Emas 2045. Indonesia, menurut para ahli demografi, hanya memiliki jendela
kesempatan sekitar 20 tahun untuk memanfaatkan bonus demografi dan
memperkuat daya saing bangsa.
“Menurut Pak
Menkes dan hitung-hitungan para ahli demografi, kita hanya punya 20 tahun ini
saja. Lewat itu, kita tidak bisa lagi mendapatkan kesempatan itu. Saya rasa,
kita adalah pasukan yang sudah terbukti bekerja keras. Saya yakin dalam
waktu-waktu ke depan, kita akan bisa mewujudkan pelayanan kesehatan primer dan
labkesmas yang aksesnya baik dan kualitasnya baik,”
tegasnya.
Karena itu,
komitmen yang dibangun di Rakontek diarahkan untuk menjadikan layanan kesehatan
primer dan komunitas sebagai garda terdepan dalam: Melindungi kesehatan warga
sepanjang siklus hidup, dari ibu hamil, bayi baru lahir, balita, remaja,
hingga lansia; Memberi perhatian khusus pada keluarga miskin dan kelompok
rentan; dan Menguatkan peran puskesmas dan jejaringnya sebagai pusat
promosi kesehatan dan pemberdayaan masyarakat, bukan hanya tempat berobat.
Buku Saku ILP
dan Kelas Tematik
Rakontek 2025
juga menjadi momentum peluncuran Buku Saku Cara Kerja Klaster Integrasi
Pelayanan Kesehatan Primer (ILP) di Puskesmas, yang akan diujicobakan di
empat puskesmas. Buku saku ini disusun sebagai panduan praktis agar puskesmas
memiliki rujukan yang sama dalam mengintegrasikan layanan di lini terdepan.
Sekretaris
Ditjen Kesprimkom sekaligus Ketua Panitia Rakontek, Niken Wastu Palupi,
menjelaskan bahwa Rakontek diisi dengan berbagai kelas tematik. Topik yang
dibahas meliputi penyediaan sarana prasarana alat kesehatan, tata kelola
layanan primer dan labkesmas, promosi kesehatan, serta penguatan manajemen
berbasis data. Selain paparan materi, peserta juga mengikuti sesi praktik baik
sehingga dapat belajar langsung dari keberhasilan daerah lain.
Kegiatan ini diharapkan tidak berhenti pada diskusi, tetapi menghasilkan rencana tindak lanjut yang konkret dan terukur di masing-masing wilayah.
Kontrak Moral Pusat dan Daerah
Menutup
arahannya, Maria Endang menegaskan bahwa Rakontek adalah bentuk kontrak
moral antara pusat dan daerah untuk memastikan layanan kesehatan primer dan
komunitas benar-benar hadir dan dirasakan masyarakat.
“Tugas kita
adalah memastikan setiap warga, dari ibu hamil, bayi baru lahir, remaja,
keluarga miskin, hingga lansia, benar-benar merasakan hadirnya layanan
kesehatan primer yang bermutu di tingkat terdekat dengan kehidupan mereka. Di
situlah makna utama kerja kita di kesehatan primer dan komunitas,” pungkasnya.