Bogor - Bertepatan dengan peringatan Hari Kesehatan Dunia (World Health Day) yang mengusung tema “Together for Health” dan menekankan pentingnya kolaborasi dalam upaya kesehatan, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia bersama Yayasan Alam Sehat Lestari (ASRI) dan Health In Harmony (HIH) menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) di Bogor untuk merumuskan pengembangan modifikasi pelayanan kesehatan dalam rangka memperkuat layanan kesehatan serta meningkatkan akses pelayanan kesehatan di Daerah Tertinggal, Perbatasan, dan Kepulauan (DTPK), kawasan hutan, serta Komunitas Adat Terpencil (KAT). Upaya ini bertujuan memastikan masyarakat di wilayah tersebut tidak tertinggal dalam mendapatkan akses pelayanan kesehatan.
Kegiatan ini merupakan bagian dari transformasi layanan kesehatan primer yang berbasis pada konteks lokal, tidak hanya menjawab keterbatasan akses dan sumber daya, tetapi juga menempatkan masyarakat sebagai aktor utama dalam sistem kesehatan. Pendekatan ini mengintegrasikan penguatan layanan kesehatan primer dengan pemberdayaan komunitas adat serta pelestarian hutan.
FGD ini menjadi langkah awal dalam pengembangan konsep dan uji coba modifikasi layanan kesehatan yang direncanakan akan diterapkan di sepuluh lokasi di seluruh Indonesia. Program ini dibangun dalam kerangka peningkatan pelayanan kesehatan DTPK, kawasan hutan, dan KAT yang tengah dikembangkan oleh Kementerian Kesehatan, dengan penyesuaian arsitektur layanan kesehatan primer agar lebih efektif, adaptif, dan relevan secara budaya bagi masyarakat adat dan komunitas lokal.
Mendengar dari Akar Rumput
Sebagai bagian dari tahap awal, Kementerian Kesehatan bersama ASRI dan HIH menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) pada 6–10 April 2026 di Bogor. Kegiatan ini mempertemukan 25 perwakilan dari 5 (lima) kabupaten di 5 (lima) Provinsi yaitu Kabupaten Asmat Provinsi Papua Selatan, Kabupaten Tambrauw Provinsi Papua Barat Daya, Kabupaten Luwu Utara Provinsi Sulawesi Selatan, Kabupaten Gunung Mas Provinsi Kalimantan Tengah dan Kabupaten Sintang Provinsi Kalimantan Barat. Peserta yang hadir terdiri dari kader kesehatan dan perwakilan masyarakat kawasan hutan dan Komunitas Adat Terpencil, kepala desa atau kepala adat, tenaga Puskesmas, dan Dinas Kesehatan Kabupaten.
FGD ini menjadi ruang untuk
mendengarkan secara mendalam dan utuh suara perwakilan masyarakat yang berada di garis depan
sebagai penjaga hutan, untuk berbagi pengalaman, praktik baik, serta tantangan
nyata di lapangan. Pendekatan ini membuka ruang bagi kearifan kolektif
komunitas sebagai dasar dalam merancang solusi yang relevan dan berkelanjutan,
tidak hanya berfokus pada peningkatan layanan kesehatan, tetapi juga mendukung
penguatan mata pencaharian, sehingga dapat mengurangi tekanan terhadap
deforestasi di wilayah mereka.
Peserta yang hadir pada kegiatan ini memberikan
berbagai cerita tentang tantangan giat kesehatan yang telah mereka lakukan di
daerah masing-masing. Ester Yesnath, kader kesehatan di Kwesefo, di sana mereka
menghadapi keterbatasan layanan kesehatan tanpa posyandu, puskesmas, maupun tenaga
medis. Untuk berobat, masyarakat harus menempuh perjalanan 3–4 hari berjalan
kaki dan 2–3 hari dengan perahu menuju Puskesmas Mpur, bahkan bisa hingga
seminggu. Ia menceritakan dua kasus cacingan pada anak — satu meninggal, satu
dirujuk hingga Sorong karena tidak tertangani di puskesmas. Biaya juga menjadi
beban besar, mencapai sekitar Rp4,5 juta belum termasuk kebutuhan selama
perjalanan. Jarak, waktu, dan biaya membuat masyarakat kerap menunda berobat,
bukan karena tidak mau, tetapi karena keterbatasan fisik dan ekonomi.
Maria Georgoria Paramok, kader kesehatan dari Asmat, menggambarkan
betapa terbatasnya layanan kesehatan di wilayah DPTK. Kegiatan posyandu bahkan
harus dilaksanakan di teras rumahnya karena tidak tersedianya fasilitas
bangunan yang memadai. Di sisi lain, akses layanan kesehatan masih sangat
terbatas, beberapa penyakit hanya dapat ditangani setiap enam bulan sekali,
bahkan ada yang hanya difasilitasi setahun sekali.
Dalam forum FGD tersebut, Maria yang datang jauh dari Papua menyampaikan
harapannya agar ASRI dapat menjadi perpanjangan tangan dalam menghadirkan akses
layanan kesehatan di daerahnya, sebagaimana yang telah dilakukan di wilayah
lain. Harapan ini muncul dari realitas keterbatasan fasilitas dan minimnya
tenaga kesehatan yang masih dihadapi masyarakat setempat.
Komitmen untuk Penguatan
Pelayanan Kesehatan Primer yang Merata
Komitmen ini ditegaskan oleh dr. Elvieda Sariwati, M.Epid, Direktur Tata Kelola Pelayanan Kesehatan Primer Kementerian Kesehatan RI: “Dalam rangka memperoleh
model modifikasi pelayanan kesehatan yang implementatif bagi wilayah kawasan
hutan dan komunitas adat terpencil, Kementerian Kesehatan bekerja sama dengan
Yayasan ASRI dan HIH akan mengembangkan konsep modifikasi pelayanan Kesehatan
serta pelaksanaan uji coba konsep tersebut di beberapa lokus terpilih. Guna
memastikan keluaran yang efektif untuk peningkatan
akses layanan kesehatan bagi masyarakat dengan turut melibatkan tokoh
masyarakat, tokoh agama dan tokoh adat setempat,
beberapa rangkaian kegiatan telah direncanakan sebelum pelaksanaan ujicoba,
salah satunya dengan membuka ruang diskusi untuk menggali data, pendapat,
pengalaman, masukan, praktik baik maupun ruang inovasi potensial dari para
pemangku kepentingan, seperti Bapak/Ibu yang hadir saat FGD yang berasal dari 5
(lima) kabupaten di 5 (lima) Provinsi yaitu Kabupaten Asmat, Papua Selatan,
Kabupaten Tambrauw, Papua Barat Daya, Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan,
Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah dan Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat.”
Senada dengan itu, dr. Richard Kowel, MPH,
Manajer Program Scale Yayasan ASRI, menekankan pentingnya pendekatan berbasis
komunitas: “Selama bertahun-tahun kami menyaksikan bagaimana sulitnya
akses kesehatan mendorong komunitas ke dalam pilihan sulit yang mereka
sendiri tidak inginkan. Program ini bukan sekadar membawa layanan kesehatan ke
pelosok hutan dan ke tengah Masyarakat Adat,
tetapi tentang mendengarkan komunitas, menghormati pengetahuan mereka, dan
bersama-sama merancang solusi yang benar-benar berakar dari kebutuhan mereka yang
juga memastikan pemenuhan hak mereka sebagai warga
negara.”
Ibu Netty, Kepala Desa Nanga Jelundung di Kabupaten
Sintang, Kalimantan Barat menyampaikan: “Desa kami adalah desa penyangga Taman Nasional Bukit Baka
Bukit Raya. Akses layanan kesehatan sangat terbatas karena jarak yang jauh dan
transportasi hanya melalui sungai dengan biaya mahal. Klinik Berjalan ASRI
sangat membantu Masyarakat Desa Jelundung. Kami berharap dengan ditingkatkannya peran dan kapasitas kader Kesehatan bisa membuat kami
mandiri secara lebih dekat, dan kami juga bisa punya pilihan penghidupan yang
tidak merusak hutan.”
Menuju Model yang Relevan dan Berkelanjutan
Diskusi yang berlangsung selama
tiga hari menghasilkan pemahaman mendalam mengenai kondisi lapangan di lima
wilayah uji coba. Beberapa isu kunci yang mengemuka antara lain kebutuhan
penguatan kapasitas kader kesehatan, peluang pemanfaatan telemedicine, serta identifikasi mitra lokal
untuk implementasi investasi langsung berbasis komunitas.
"Kami juga berdiskusi membahas bagaimana
masyarakat menjadi perancang utama solusi atas tantangan yang mereka hadapi,
mulai dari pengembangan agroforestri, ekowisata, hingga penguatan mata
pencaharian berbasis kearifan lokal. Pendekatan ini sejalan dengan model
Planetary Health, yang mengintegrasikan kesehatan manusia, kelestarian
lingkungan, dan kesejahteraan sosial dalam satu kerangka yang saling
terkait," ujar Yani Saloh, Ketua Yayasan ASRI.
Masukan dari FGD ini akan menjadi
fondasi dalam pengembangan model modifikasi layanan kesehatan yang akan diuji
di masing-masing lokasi, memastikan bahwa setiap pendekatan benar-benar
mencerminkan kebutuhan, realitas, dan prioritas masyarakat setempat.
Langkah Selanjutnya
Sebagai tahap berikutnya,
Kementerian Kesehatan bersama ASRI dan HIH akan memulai
kegiatan uji coba pada Juni 2026, menandai dimulainya
fase implementasi di seluruh wilayah uji coba.