
Salatiga - Di sebuah pagi yang sejuk di Kota Salatiga, langkah-langkah penuh semangat memasuki halaman Balai Besar Laboratorium Kesehatan Lingkungan (BBLKL) Salatiga. Bukan sekadar pertemuan biasa, dua hari itu menjadi ruang belajar yang hidup—tempat teori bertemu praktik, dan komitmen bertemu aksi nyata.
Bersama Universitas Bhakti Kencana Bandung,
BBLKL Salatiga menggelar Bimbingan Teknis Surveilans Vektor dan Binatang
Pembawa Penyakit. Kegiatan ini dirancang bukan hanya untuk menambah
pengetahuan, tetapi untuk mengasah kepekaan para peserta terhadap ancaman
penyakit berbasis lingkungan yang kerap tak terlihat, namun nyata dampaknya.
Hari pertama dimulai dengan pembahasan yang
langsung menyentuh akar persoalan: survei nyamuk Aedes sp., vektor utama Demam
Berdarah Dengue (DBD) dan chikungunya. Di balik istilah teknis seperti
parameter entomologi dan survei rodent, tersimpan misi besar—mengumpulkan data
yang akurat sebagai fondasi pengendalian penyakit. Peserta tidak hanya duduk
mendengarkan, tetapi turun langsung mempraktikkan metode pengamatan,
identifikasi, hingga pencatatan data lapangan.
Di sinilah ketelitian diuji. Setiap angka
yang dicatat bukan sekadar data, melainkan penentu arah kebijakan. Setiap
sampel yang diambil adalah bagian dari upaya melindungi masyarakat dari risiko
wabah.
Memasuki hari kedua, pembelajaran semakin
mendalam. Praktik survei rodent membuka wawasan tentang peran binatang pembawa
penyakit dalam rantai penularan. Materi bioekologi dan strategi pengendalian
vektor DBD mengajak peserta memahami bahwa lingkungan, perilaku, dan keberadaan
vektor adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan. Pengendalian tak bisa hanya
reaktif—ia harus adaptif, berbasis data, dan berkelanjutan.
Dua hari itu bukan sekadar bimbingan teknis. Ia adalah penguatan komitmen. Bahwa surveilans bukan rutinitas administratif, melainkan garda depan kewaspadaan dini. Bahwa di balik setiap laporan survei, ada upaya menjaga kesehatan masyarakat.

Melalui kegiatan ini, BBLKL Salatiga
kembali menegaskan perannya: menghadirkan ilmu yang aplikatif, membangun
kapasitas yang nyata, dan memastikan setiap langkah pengendalian penyakit
berdiri di atas data yang kuat.